365 Score Network_Football betting app_Macau Online Casino

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:FormalBaccarat

BaBaccarat Potru nBaccarat Potikah berapa hari, eh, sanBaccarat Potg suami tercinta harus memenuhi tugas negara. Saat ituBaccarat PotLah ujian pertama LDR bagi Ibu Tien dan Pak Harto. Jangan baBaccarat Potyangkan LDR di waktu itu bisa dibantu dengan kirim-kiriman chat atau video call. Sekadar menitip surat saja harus ekstra hati-hati karena takut disadap Belanda yang waktu itu melancarkan agresi militer. Cobaan berikut pun menanti, Ibu Tien masih harus melahirkan anak pertamanya tanpa dampingan sang suami. Hiks hiks.

Pak Harto dan Ibu Tien dipertemukan di Wonogiri ketika keduanya masih sekolah. Waktu itu Soeharto kecil adalah anak angkat Prawirowiharjo di Wuryantoro, Wonogiri. Sementara Ibu Tien adalah anak dari RM Soemoharjomo, seorang mantri gunung yang disiplin. Bertemu di kala remaja, tetapi belum ada bibit cinta keduanya. Tak menyangka, akhirnya berjodoh selamanya.

Menjadi istri yang setia tak menghalangi Bu Tien untuk tampil selalu stylish. Beliau adalah wanita yang menyebar virus ‘kebaya’ kemanapun dia pergi. Hampir di setiap kesempatan Bu Tien selalu mengenakan kebaya. Keanggunan wanita Indonesia tercermin dari Ibu Negara yang satu ini. Bahkan ada salah satu fotonya yang terlihat sedang bermain boling dengan memakai kebaya.

Dulu diceritakan bahwa Pak Harto merasa penat menjadi tentara dan ingin menjadi sopir taksi saja. Ibu Tien menyemangatinya dengan bilang “Saya menikah dengan tentara, bukan sopir taksi”. Dan jadilah Pak Harto tetap menjadi tentara dan akhirnya menjadi presiden. Coba kalau beliau keukeuh menjadi sopir taksi? Nggak bakalan jadi presiden dong beliau?

Menelisik soal kehidupan romansa tokoh Indonesia memang menarik. Apalagi kalau yang bersangkutan pernah jadi orang nomor satu di negeri ini. Lihat saja kisah cinta Habibie Ainun yang menjadi kisah klasik dan banyak diteladani masyarakat. Tak hanya kisah cinta mereka yang legendaris, kisah romantika tokoh yang satu ini juga nggak kalah menarik untuk disimak.

Pak Harto dan Bu Tien sama-sama berprinsip akan memegang teguh tali cinta dan perkawinan monogami. Sudah banyak pihak negatif yang berusaha memfitnah pasangan ini dengan menyebut Pak Soeharto punya selir, tapi tak ada satupun yang terbukti. Ini karena mereka adalah pasangan so sweet yang setia dan berpegang teguh pada konsep satu pasangan.

Sewaktu tinggal di Jogja, Pak Harto bertugas sebagai tentara keamanan. Waktu itu Belanda sedang menyerang, sehingga sedikit saja interaksi dengan para tentara menjadi hal yang riskan. Ibu Tien bela-belain mengungsi dan berpura-pura bukan jadi istri tentara demi menyelamatkan diri dan suami tercinta. Dipisahkan karena tugas, bukti ketegaran Ibu Tien sebagai istri setia.

Setelah pertemuan pertama, Pak Harto dan Ibu Tien menjalani karir masing-masing. Satunya sebagai tentara, dan satunya sibuk berorganisasi kewanitaan di kota Solo. Lalu Pak Harto ‘kembali’ ke Wonogiri dan meminang cinta lama, seorang putri ningrat yang memesona. Jodoh memang tak kemana.

Di waktu itu, adalah kurang lazim jika wanita keturunan ningrat menikah dengan lelaki biasa. Namun kondisi ini tak lantas membuat Pak Harto ciut nyali untuk mempersunting wanita idamannya. Mereka menikah di saat situasi perang kemerdekaan. Untuk itulah nggak ada foto sama sekali di acara nikahan mereka. Hmm, sayang banget nggak sih? Tapi apa boleh buat. Cinta yang suci tak perlu banyak bukti.

Dialah Ibu Tien dan Pak Soeharto. Ibu negara dan presiden RI yang kedua

Pak Harto dengan tegas menolak untuk memiliki wanita lain. Entah itu poligami maupun menikah lagi selepas kepergian Bu Tien. Baginya, hanya ada satu Nyonya Soeharto sepanjang hidup dan satu-satunya. Binaan cinta yang tidak main-main, mengingat usia pernikahan mereka yang bisa langgeng hingga 50 tahun lebih. Siapa sih yang nggak ingin?

Menjunjung tinggi tali kasih pernikahan sampai mati adalah prinsip pasangan ini. Di luar kasus Pak Harto yang simpang siur di era Orde Baru, kita tetap sepakat bahwa cinta Pak Harto dan Bu Tien dan harmonisnya pernikahan mereka layak untuk ditiru dan diambil contohnya.

Petuah Soeharto dalam membina hubungan dengan istrinya selalu dilandasi dengan rasa kasih, sayang, setia, pengertian dan hormat-menghormati antar pasangan. Bayangkan saja kalau sebuah hubungan tak dilandasi dengan cinta, kesetiaan dan hormat? Dijamin lambat laun akan kandas dengan sendirinya. Nggak mau seperti itu ‘kan? Untuk itulah, petuah ini layak ditiru, Guys.

Bagaimana, kamu setuju?

Kisah cinta mereka dinilai sangat menarik, karena selama lebih dari 50 tahun pernikahan, Ibu Tien dan Soeharto tetap setia dan harmonis sampai wafat. Selain itu, hampir nggak ada berita skandal tentang asmara mereka berdua. Kesetiaan Ibu Tien terhadap Soeharto maupun sebaliknya menjadi teladan banyak pasangan di Indonesia.

Bu Tien adalah istri yang nggak mengekang suami untuk berkarya. Segala hal dilakukan untuk menyayangi dan memberi kebebasan bersyarat untuk suami. Itulah yang membuat Pak Harto sangat menyayangi istrinya lebih dari apapun. Bahkan, salah satu wasiat Pak Harto adalah “Ketika saya mati, semuanya kuserahkan ke istri”. Seolah punya firasat akan meninggal duluan sebelum istrinya. Namun takdir berkata lain.