Texas Hold'em App_Football betting company_Baccarat Winning Formula Collector's Edition_Introduction to Indonesia Lottery_The only way to win baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:FormalBaccarat

BookBookmaker RankBookmaker Rankingingmaker Rankingmenyinggung orang lain/ Illustration by Bookmaker Rankinghipwee

Kalimat-kalimat tersebut mungkin akan menimbulkan dua persepsi berbeda. Bisa dianggap menunjukkan perhatian untuk ke arah yang lebih baik, namun bisa juga dianggap sebagai tuntutan yang kurang sesuai dengan dirinya. Lalu yang mana sih sebenarnya anggapan yang benar? Ternyata walau kita mungkin menganggapnya baik namun belum tentu bagi orang lain juga demikian lo. Pasalnya, setiap manusia tumbuh dengan value yang berbeda-beda.

Nah, sebagai pasangan, kita bisa memberikan informasi seperti “Eh sebenernya kalau kamu ngomong kayak gini di depan temen-temen kamu itu buat situasi nggak nyaman loh.” Atau kita bisa bilang “Kalau kamu setiap hari selalu melarang aku untuk melakukan ini-itu, aku jadi ngerasa nggak bebas. Aku jadi merasa tertekan.”

Hal ini dikarenakan sifat atau kepribadian sudah terbentuk sejak kita masih kecil. Sifat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, cara mereka mengajarkan kita untuk bersosialisasi, serta nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga. Belum lagi, ada pengaruh dari lingkungan seperti kepercayaan, budaya, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, untuk mengubah sifat seseorang perlu alasan yang kuat dari dalam dirinya dan tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Dilihat dari tingkat kesulitannya, perilaku seseorang relatif lebih mudah untuk diubah. Lain halnya dengan sifat, karakter, atau bahkan kepribadian yang proses perubahannya bisa berlangsung lebih lama. Contohnya, kita bisa saja mengubah perilaku meletakkan pakaian secara sembarangan, namun sulit untuk mengubah sifat tidak peduli terhadap kebersihan.

Sama seperti saat kita ingin mengubah perilaku adik kita yang belum bisa merapikan kamar tidurnya sendiri. Daripada sekadar menyuruh untuk merapikan selimut, bantal, sprei, kita bisa berikan informasi bahwa nggak nyaman tinggal di ruangan atau di kamar yang berantakan seperti itu. Kalau menaruh barang sembarangan, kita sendiri yang akan kesulitan mencari barang yang ingin digunakan, dll. Jadi, alih-alih mengarahkan untuk melakukan perilaku tertentu, ada baiknya kita memberikan informasi sehingga muncul urgensi dalam dirinya “Oh sepertinya aku memang harus berubah.”

Lebih baik sendiri/ Illustration by Hipwee

Contoh, Andy adalah orang yang pemalu, malas bersosialisasi dengan orang lain, dan awkward. Maka dari itu, dia ingin memiliki pacar yang lebih sociable. Andy memiliki harapan, dengan memiliki pacar seperti itu, ia akan diajak bertemu dengan lebih banyak orang.

Contoh lainnya yang mungkin sering kita dengar, misalnya Nanda yang sudah lelah dan enggan bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun ingin mendapatkan pasangan kaya raya sehingga tidak mengharuskan dia untuk bersusah payah lagi.

PS. Konten ini dibuat secara co-create antara pihak content creator dengan tim editorial Hipwee Premium

“Kamu kan perempuan, jadi sekarang lebih jaga diri ya. Jangan pulang malam.”

Ada perbedaan besar antara menyuruh dan memberi informasi. Coba bayangkan jika ada seseorang menyuruhmu dengan berkata seperti “Kamu harusnya ngelakuin A daripada ngelakuin B!” Maka kamu mungkin justru bertanya-tanya “Kenapa aku harus begitu?” Nah, fungsi dari memberi informasi ini adalah supaya pasangan kita sendiri yang memproses apakah ini hal yang baik atau buruk baginya sehingga dia bisa memahami konsekuensinya dan kemudian mengambil sikap.

Contohnya, ada orang yang menganggap bahwa merencanakan masa depan adalah hal yang penting, misalnya harus kerja di mana, kapan menyicil rumah, rencana membuat bisnis, rencana memiliki anak, dll. Sedangkan bagi sebagian orang lain, menjalani hidup tanpa banyak rencana dan mengalir apa adanya merupakan pilihan terbaik. Lalu mana yang benar? Fun fact, bukan salah satunya. Dua-duanya bisa benar sesuai dengan value dan preferensi masing-masing.

Seseorang mungkin nggak bisa melihat secara menyeluruh apa dampak atas perilaku yang dia miliki. Mungkin dia toxic tapi dia nggak sadar, mungkin dia punya kebiasaan yang buruk tapi selama ini dia belum merasakan konsekuensi buruk dari perilaku tersebut.

“Sebagai laki-laki, kayaknya kamu udah mulai harus mikirin masa depan dari sekarang deh.”

Nah, jika perubahan didasari karena permintaan atau perintah dari orang lain, misalnya seperti keluarga atau pasangan, maka perubahan itu mungkin saja terjadi namun kemungkinan hanya dalam waktu sesaat dan jarang bertahan dalam jangka waktu yang lama. Berbeda jika perubahan tersebut memang didasari oleh keinginan sendiri. Biasanya perubahan ini dapat bertahan lebih lama.

Namun, jika kita sudah bertemu dengan seseorang yang tepat dan memiliki kecocokan value yang mendasar, toleransi untuk berubah sedikit demi sedikit mungkin nggak akan menjadi beban. Hal ini karena kalian memiliki satu hal berharga yang sama-sama ingin dipertahankan. Perubahan di sini yang biasanya mungkin lebih dilakukan dengan inisiatif masing-masing, bukan karena terpaksa, melainkan karena ingin mempertahankan dan menjaga hubungan yang berharga.

Supaya nggak lelah sendiri dengan terus menerka-nerka, ada baiknya kita pahami dulu konsepnya. Apakah kita bisa mengubah pasangan dengan segala sifat buruknya? Atau bahkan kita bisa mengubahnya jadi sosok sempurna yang selama ini ada di kepala kita?

Berubah jadi lebih baik/ Illustration by Hipwee

Tahu nggak sih, SoHip? Ada beberapa hal yang mungkin memengaruhi kita sehingga kita bisa terobsesi memiliki pasangan yang lebih baik atau bahkan sempurna. Salah satunya, image ‘pacar sempurna’ ini bisa terbentuk setelah kita terpapar tokoh di novel, drama Korea, atau film romantis yang kita tonton. Padahal kehidupan nyata nggak seindah kisah fiksi lo.

Sejak pertama kali berkenalan, jangan buru-buru mengubah pasangan menjadi seseorang yang kamu inginkan. Kenali dulu persamaan dan perbedaan masing-masing. Jika kalian menemukan banyak value mendasar yang berbeda, memutuskan untuk jalan masing-masing bukanlah hal yang buruk.

Kalau selama ini ada orang yang cerewet bilang “Kamu nggak bisa jadi ‘panti rehabilitasi’ bagi pasangan karena sulit untuk mengubah sifatnya jika tak ada kemauan dari dalam dirinya sendiri”, ternyata pernyataan tersebut benar lo. Pasalnya, perubahan perilaku membutuhkan motivasi yang kuat atau urgency dari dalam diri sendiri.

Alih-alih langsung beranjak dan meninggalkan pasangan setelah mengetahui sifat-sifat buruknya, ada hal yang bisa kamu usahakan terlebih dahulu supaya nggak ada penyesalan yang dirasakan nantinya. Perubahan sifat bisa dimulai dari motivasi, ada satu hal yang kita lakukan yaitu dengan menginspirasi atau menstimulasi motivasi tersebut. Cara paling sederhana yakni dengan memberi informasi.

Mungkin kamu sering mendengar percakapan-percakapan tersebut di sekelilingmu, sekadar baca di media sosial, atau jangan-jangan, kamu sendiri yang mengalaminya? Sayangnya, diskusi tersebut selalu berhenti di sana tanpa ada penjelasan yang lebih lengkap. Akhirnya tetap muncul pertanyaan-pertanyaan, memangnya betul kita nggak bisa mengubah sifat atau perilaku pasangan kita? Benarkah dia akan seperti itu selamanya?